Korelasi Kepatuhan ISO dengan Lolos audit SBU

Bagi perusahaan konstruksi, Sertifikat Badan Usaha (SBU) menjadi dokumen yang wajib dimiliki oleh berbagai Badan Usaha Jasa Konstruksi (BUJK). Dalam proses mendapatkan SBU, auditor akan melakukan audit untuk mengecek seluruh berkas pengajuan dan perpanjangan SBU. Bagi BUJK yang sudah menerapkan ISO, kegiatan dalam pengumpulan berkas-berkas sudah dilakukan karena dalam standar ISO, dokumentasi menjadi salah satu tata kelola yang wajib dilakukan sehingga terdapat korelasi kepatuhan ISO dengan lolos audit SBU.

Korelasi Antara Kepatuhan ISO dan Keberhasilan Lolos Audit SBU

Audit SBU merupakan proses pemeriksaan dan penilaian yang dilakukan oleh auditor untuk memastikan suatu BUJK telah memiliki kualifikasi, kompetensi, kelayakan operasional, dan persyaratan yang sesuai dengan standar dan regulasi yang berlaku. Audit SBU meliputi pemeriksaan dokumen legalitas badan usaha, tenaga kerja bersertifikat (SKK), peralatan kerja, pengalaman proyek, dan kepatuhan terhadap standar mutu serta keselamatan. 

Keberhasilan audit SBU dapat tercapai jika perusahaan telah memenuhi kualifikasi dan persyaratan yang sudah ditetapkan. Probabilitas keberhasilan lolos audit SBU semakin besar jika perusahaan telah menerapkan sistem manajemen yang berbasis pada tata kelola perusahaan, yaitu ISO. ISO memastikan bahwa perusahaan telah siap menghadapi audit SBU karena ISO menyediakan kerangka kerja yang terdokumentasi, bukti pelaksanaan, dan praktik manajemen yang diminta oleh auditor SBU.

Baca juga: Tahapan Pengurusan SBUJK (Sertifikasi Badan Usaha Jasa Konstruksi)

Berikut beberapa korelasi antara kepatuhan ISO dan keberhasilan lolos audit SBU:

1. Bukti yang Terdokumentasi dengan Jelas

ISO mewajibkan prosedur instruksi kerja, dan rekaman yang sering diminta oleh auditor SBU untuk bukti tertulis dan mudah diverifikasi.

2. Proses yang Terstandarisasi dan Konsisten

ISO membiasakan organisasi dengan proses yang konsisten, sehingga hal ini akan mengurangi temuan ketidaksesuaian saat audit SBU.

3. Manajemen Risiko dan Kepatuhan Hukum

Terdapat klausul dalam ISO seperti penilaian risiko yang menunjukkan bahwa organisasi mengenali dan mengendalikan risiko yang relevan dengan persyaratan SBU, sehingga hal ini dapat meningkatkan nilai poin positif perusahaan dalam penilaian audit SBU.

4. Kompetensi dan Pelatihan

Untuk mendapatkan SBU, terdapat persyaratan yang mengharuskan BUJK memiliki tenaga kerja yang memiliki kualifikasi kompetensi, sehingga hal ini selaras dengan tuntutan bukti kompetensi ISO yang didapatkan melalui pelatihan.

5. Pengendalian Dokumen dan Catatan

Sistem pencatatan pada ISO memudahkan auditor dalam menemukan bukti dan mengurangi temuan yang bersifat administratif.

6. Audit Internal dan Tindakan Korektif

Program audit internal ISO yang efektif dapat menangani masalah lebih awal, sehingga saat audit SBU, tidak ditemukan temuan minor atau mayor.

7. Perbaikan Berkelanjutan

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang menunjukkan dan menindaklanjuti temuan dan memperbaiki proses terus menerus, sehingga hal ini dapat menurunkan risiko penolakan SBU.

Audit SBU bukanlah sebuah ancaman jika perusahaan Anda telah mengimplementasikan sistem manajemen ISO. Hal ini perusahaan yang mematuhi standar ISO, terbiasa dengan pemeriksaan berkas, pencatatan kegiatan operasional perusahaan, hingga tindakan korektif untuk perbaikan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, dapat dipastikan bahwa perusahaan yang telah menerapkan ISO, memiliki peluang keberhasilan audit SBU yang besar dibandingkan dengan perusahaan yang tidak menerapkan standar ISO. Jika Anda memiliki pertanyaan terkait ISO atau SBU, kunjungi website berikut ini globalindokarya.com. Tim kami memiliki pengalaman di bidang sertifikasi sistem manajemen, legalitas perusahaan, hingga ketenagalistrikan. Dapatkan penawaran menariknya sekarang!

Konsultasikan Kebutuhan Anda