Proses Whistleblowing

Umumnya, kasus penyuapan terjadi tidak hanya dari satu individu, melainkan melibatkan banyak orang hingga membentuk sebuah kelompok. Menurut Elwi Danil yang dilansir Antara News, korupsi dilakukan secara terorganisir, bahkan dilakukan secara terang-terangan.  Untuk mencegah tindakan korupsi, organisasi dapat menerapkan sistem whistleblowing. Agar pelapor aman dari oknum, proses whistleblowing harus dibuat secara aman.

Apa itu Whistleblowing

Whistleblowing merupakan tindakan seorang pelapor atau whistleblower yang mengungkapkan tindakan ilegal, tidak etis, atau berbahaya yang dapat berdampak buruk terhadap organisasi. 

Kasus yang biasanya dilaporkan oleh whistleblower yakni kasus suap dan korupsi. Hal ini dikarenakan budaya korupsi yang sistematis dapat merusak dan menciptakan budaya kerja yang positif, menjadi budaya korupsi yang menyebabkan dampak secara finansial maupun krisis kepercayaan.

Baca juga: Tahapan Membangun Whistleblowing System yang Efektif sesuai ISO 37001

Cara Membangun Proses Whistleblowing yang Aman

Salah satu metode pelaporan whistleblowing yang populer dan sering digunakan yaitu Whistleblowing System (WBS). Whistleblowing System adalah metode pelaporan yang menggunakan saluran yang dirancang agar pelapor dapat mengungkapkan potensi yang merugikan organisasi seperti kecurangan, pelanggaran hukum, atau etika secara aman dan rahasia. WBS tidak hanya mengidentifikasi dan mencegah tindakan ilegal, tetapi juga membangun budaya kerja yang positif dan terhindar dari tindakan yang berpotensi merugikan organisasi. Selain itu, 

Pelapor atau whistleblower merupakan pemain kunci dalam WBS dalam mengidentifikasi tindakan pelanggaran yang seringkali luput dari pengawasan. Dengan adanya WBS, pelapor dapat leluasa melaporkan terduga pelanggan dengan proses deteksi sejak dini.

Hal ini tidak terlepas dari prinsip utama yang terkandung dalam WBS, diantaranya:

  • Kerahasiaan
  • Keamanan
  • Aksesibilitas
  • Transparansi
  • Akuntabilitas

Untuk membangun proses whistleblowing yang aman, Anda dapat mengimplementasikan whistleblowing system, berikut proses implementasi WBS:

1. Analisis Risiko Fraud

Langkah pertama ini mengidentifikasi area yang memiliki potensi penyimpangannya tinggi. Hal ini ditujukan untuk menentukan prioritas area pengawasan.

2. Penyusunan Kebijakan WBS

Buatlah aturan, mekanisme, pelaporan, serta sanksi bagi pelaku. Hal ini dapat membangun dasar hukum internal yang kuat sebagai fondasinya.

3. Pengembangan Infrastruktur IT

Membuat portal pelaporan rahasia yang berbasis digital. Hal ini mempermudah akses dan keamanan pelapor.

4. Pelatihan SDM dan Sosialisasi

Melatih karyawan dan manajemen agar memahami sistem. Sosialisasi ini dapat membangun budaya pelaporan atau speak up di lingkungan organisasi.

5. Monitoring dan Evaluasi

Tahap akhir, lakukan evaluasi efektivitas pelaksanaan WBS. Tindakan ini dilakukan untuk perbaikan yang berkelanjutan.

Tindakan suap dapat dicegah bila organisasi menerapkan WBS. Cara ini dapat merahasiakan pelapor untuk mencegah terjadinya balas dendam dan intimidasi. Untuk membangun proses whistleblowing yang aman, organisasi dapat menerapkan strategi membangun proses whistleblowing yang aman dengan cara analisis risiko fraud, penyusunan kebijakan WBS, pengembangan infrastruktur IT, pelatihan SDM dan sosialisasi, serta melakukan monitoring dan evaluasi. Jika Anda ingin mendapat informasi serupa dengan artikel di atas, Anda dapat mengunjungi website kami di globalindokarya.com. Kami berpengalaman di bidang sertifikasi sistem manajemen, legalitas perusahaan, hingga ketenagalistrikan. Segera konsultasikan dengan kami!

Konsultasikan Kebutuhan Anda